Bila Anak Membantah ??

Benarkah anak zaman sekarang suka membantah? Membantah orang tua, menurut Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Dr T Priyo Widiyanto MSi, memang fenomena yang ada di berbagai tempat. Anak-anak yang membantah bisa karena disuruh orang tua, tetapi bisa juga sebagai mekanisme pertahanan diri.

Priyo mengakui ada perbedaan kultur antara anak-anak masa kini dan generasi sebelumnya. Dahulu, seorang anak selalu menurut bila diperintah orang tuanya. ”Karena kalau membantah apa yang diperintahkan orang tua pasti langsung dimarahi,” katanya,”Khususnya di budaya Jawa, kalau anak membantah dengan orang tua diberi label tidak sopan, tidak tahu unggah-ungguh.” Continue reading “Bila Anak Membantah ??”

Review 3 Strategi Memajukan Pendidikan

Sudah beberapa hari alpa ngisi blog, keluyuran dan bertemu dengan artikel di kompas mendikbud menyampaikan 3 strategi memajukan pendidikan secara singkat sebagai berikut:

  1. Strategi pertama adalah meningkatkan wajib belajar dari sembilan tahun menjadi 12 tahun melalui pendidikan menengah universal. Target dari program ini adalah meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) sekolah menengah menjadi tidak kurang dari 97 persen
  2. Strategi kedua adalah meningkatkan akses ke pendidikan tinggi yang mengacu pada Undang-Undang No.12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Dalam undang-undang itu disebutkan pemerintah wajib menyelenggarakan sedikitnya satu akademi komunitas di setiap kabupaten dan setidaknya ada satu universitas dan politeknik di tiap provinsi.
  3. Strategi ketiga adalah merevisi kurikulum untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Kurikulum baru ini disusun untuk menyiapkan peserta didik menguasai keterampilan di abad 21 yang mengedepankan kreativitas dan keberanian melakukan inovasi. Continue reading “Review 3 Strategi Memajukan Pendidikan”

Pendidikan Karakter Ala Luqman

Memang benar pendidikan karakter perlu ditanamkan sejak dini, karakter itu harus dibentuk dari bibit yang memakan makanan yang baik dan halal, selama dalam kandungan pun perlu dibina dengan membiasakan melakukan hal-hal yang positif, diberi makanan yang baik dan halal juga.

Saat ini tingkah laku menyimpang anak remaja sudah mendekati tindak kriminalitas, akankah kenyataan ini terus terjadi ? pertikaian antar suku, perselisihan paham yang menyebabkan suatu golongan tertindas dan hal-hal lainnya yang terjadi di lingkungan kita. Continue reading “Pendidikan Karakter Ala Luqman”

Review Sistem Pendidikan Indonesia

Setelah membaca posting berita tentang Sistem Pendidikan Indonesia Terendah di Dunia di Kompas.com. Lumayan membuat miris hati dan pemikiran. Apabila kita melihat ke lapangan, pelaksanaan pendidikan terkadang didukung dengan fasilitas yang kurang memadai. Anak saya sekolah di SDN X saja buku paket yang digunakan tahun 2008, memang setiap buku bermanfaat, tapi setidaknya ada perbaikan atau revisi materi jika menggunakan buku yang baru. Continue reading “Review Sistem Pendidikan Indonesia”

Yuk buat istana dalam kenyataan ….. !!!

Pendidikan terus menerus menjadi hal yang selalu diperbincangkan pada setiap saat, wacana saat ini mengenai akan berubahnya kurikulum sudah menyebar dengan cepat. Selain itu persiapan Ujian Nasional yang akan dibuat 20 soal yang berbeda dan hal-hal lain yang tersebar dimedia massa.

Tertarik dengan amanat mendikbud yang dikutip di Republika.co.id Menteri Pendidikan M. Nuh menyatakan bahwa “Pendidikan” merupakan sistem rekayasa sosial terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan, keharkatan dan kemartabatan suatu bangsa. Dan Guru, merupakan tonggak utama dalam dunia pendidikan.¬†Akan tetapi, masih ada ruang yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan kualitas dari aspek peranan guru. Empat aspek tersebut meliputi, (1) kompetensi dalam pemahaman substansi bahan ajar, (2) pedagogi, (3) kompetensi kepribadian, (4) kompetensi sosial. Selain hal tersebut, seorang guru dituntut untuk mematuhi kode etik guru dan prinsip-prinsip pofesonalitas sesuai dengan amanat perundang-undangan Indonesia

DISKUSI

Untuk mencapai 4 kompetensi di atas diperlukan suatu sikap yang serius dari pribadi guru tersebut, guru perlu bertafakkur mengapa menjadi guru? apa tujuan menjadi guru ? dan pertanyaan lain yang hanya dijawab oleh diri pribadi masing-masing. Selain itu seperti postingan terdahulu tentang mengajar dan mendidik, guru terus mengejar kekurangan jam dalam mengajar.

Ketercapaian jam mengajar sesuai dengan tuntutan dari aturan yang ada, menyebabkan terporsirnya tenaga untuk meningkatkan kemampuan lainnya. Hal ini akan mempersulit guru dalam mengembangkan kreatifitasnya, untuk itu perlu ditinjau kembali beban mengajar guru perminggu.

Pelaksanaan Ujian Nasional selayaknya seperti yang dilakukan di Finlandia hanya untuk mengetahui tingkat ketercapaian antar sekolah, hasil tidak dipublikasikan. Jika tujuannya seperti itu, saya yakin tidak ada guru yang keberatan, selama UN menjadi alat untuk menilai kelayakan siswa dalam menuntaskan pendidikan menengah, maka proses pendidikan akan stagnan. Sebagai tenaga pengajar di daerah mari kita untuk mempertimbangkan kelayakan UN sebagai syarat kelulusan, karena “siluman-siluman” dadakan akan turun gunung untuk membantu pelaksanaan UN di sekolah-sekolah.

Mari kita wujudkan teori yang diutarakan mendikbub dalam kenyaataan agar istana yang indah itu dapat kita masuki secara nyata, tidak menghayalkan bangunan yang indah tapi kita hidup dan mengelilinginya diluar istana tersebut