Muhasabah

SIAPAKAH TEMAN SYAITAN BESOK HARI ?

Ketika berbagai tulisan di blog ataupun di media yang menggambarkan masalah kemajuan dalam pendidikan diluar negeri, terkadang kita tidak berkaca bagaimana menanamkan perubahan tingkah laku siswa yang terkadang kelewatan dalam merayakan kelulusan.  Besok pengumuman kelulusan akan diumumkan oleh sekolah masing-masing, standar kelulusan yang kembali ke satuan pendidikan masing-masing akankah dapat mencegah ritual tahunan calon generasi bangsa berpesta coret-coretan dipinggir jalan yang terkadang menyebabkan kemacetan.

Pendidikan menurut Prof. Mahmud Yunus membiasakan siswa dengan hal-hal yang terpuji, jika ritual tahunan terus terulang, kita sebagai guru sudah berhasil mengisi kognitif siswa dengan nilai-nilai yang mengantarkan mereka lulus diterima diperguruan tinggi negeri, namun sepi dengan sikap dan nilai-nilai keagamaan. Mubadzir jika seragam sekolah yang masih baik dicoret-coret sebagai ungkapan kegembiraan, padahal jalan panjang masih terbentang untuk dilalui dan diperjuangkan. Untuk menghindari menjadi teman syaitan mari kita ubah kebiasaan ritual tahunan dengan ungkapan doa mudah-mudahan lepas dari SMA dapat melanjutkan ke pendidikan tinggi dan menjadi sukses baik didunia ataupun diakhirat.

campuran, Muhasabah

Ketika Orang Biasa Bertanya …..??????

Sekedar tulisan Orang Biasa di Bertanya merupakan hal yang perlu dilakukan bagi kita yang tidak mengetahui hal-hal tertentu, termasuk dalam hal kepegawaian dan juga persyaratan untuk mendaftar sekolah, kuliah ataupun kenaikan pangkat. Namun terkadang perlu diperhatikan beberapa hal menurut saya ketika akan bertanya walaupun terdapat orang yang mungkin menurut kita sudah dikenal atau bahkan tetangga:

  1. Situasi hati orang yang akan ditanya sedang in mood  atau tidak. kalau masih dipaksakan akan sia-sia apalagi kita sebagai orang biasa kecuali kita ada sesuatu lah …. yang membuat orang akan dengan segara melayani kita
  2. Kesibukan pada beberapa karyawan pun perlu diperhatikan, sibuk dengan pekerjaan ataupun sibuk dengan obrolan masing-masing. kudu sabar kalau waktu masih memungkinkan

Hal inilah yang terkadang terjadi dan pasti akan dialami orang biasa seperti saya, terkadang kita mempermudah orang kuliah dalam membuat tugas akhir, memberi nilai pada mata kuliah yang diberikan tidak akan menjadi jaminan. Terkadang dalam pembayaran biaya pun dengan berbagai alasan yang tidak jelas untuk menghindarkan diri dari sisa tagihan yang masih tersisa, namun posisi orang biasa tetap disalahkan, tapi kebenaran yang mutlak hanya ada pada-Nya, pada saatnya nanti dihari dimana manusia mempertanggungjawabkan hidupnya akan terbuka dengan sendirinya.

Walaupun begitu berusahalah untuk mempermudah orang mudah-mudahan kesulitan yang dibebankan orang lain pada kita akan menjadi kemudahan dalam menjalani kehidupan, dan balasan dari-Nya tetap akan ada.

Muhasabah

Tahun Baru Hijriyah Terlupakan ?

Lepas sudah 3 hari dari tanggal 1 Hijriyah, awal tahun baru bagi kita kaum muslimin. Namun terkadang miris melihat kondisi dan kenyataan, mulai dari ormas-ormas islam yang besar saja belum ada yang namanya peringatan yang menyambut secara meriah datangnya tahun baru hijriyah yang memiliki makna bagi kita.

Jika diperhatikan ketika tiba datang waktu tahun baru masehi, tumpah ruah dengan segala dana yang dimiliki pun dikeluarkan tanpa ada rasa pemborosan sedikit pun. Apakah kenyataan seperti ini merupakan gambaran nyata dari hadist rasul yang menyatakan akan datang suatu masa dimana islam itu hanya tinggal namanya saja, bergitu juga dengan quran hanya tinggal tulisannya saja. Satu segi dalam memperingati tahun baru saja sepertinya tidak ada yang mengetahui hal tersebut.

Selayaknya bagi kaum muslimin merasa bangga dengan kedatangan tahun baru hijriyah, dalam arti Allah, SWT masih memberikan waktu kepada kita untuk selalu beribadah kepada-Nya, tidak memisahkan agama dari kehidupan sehingga manipulasi ditempat kerja dapat dihindari, karena konsep ada pada diri kita hidup untuk makan atau makan untuk hidup. Makna hidup dalam quran adalah sibuk berbuat berdasarkan petunjuk Allah, SWT.  Mari kita kembali memperhatikan hal-hal yang sering kita anggap sepele menjadi hal yang besar dalam kehidupan kita. Akan kah tahun baru hijriyah ini selalu terlupakan ?

Muhasabah

PESTA DEMOKRASI

Pelaksanaan pemilihan Presiden Republik Indonesia Masa Bhakti 2014-2019 telah dilaksanakan kemarin, sejak kedua pasangan mendeklarasikan diri sebagai calon presiden dan wakil presiden, berbagai intrik politik dan propaganda  telah dilakukan. Adu argumen pada saat debat terbuka sudah dilakukan. Sampai pada isu black campign pun dengan menggunakan IT telah merebak.

Hasil dari quick count yang dikeluarkan berbagai lembaga survey di Indonesia telah menyatakan kemenangan pada pihak-pihak tertentu, dimana kedua kubu saling mengklaim sebagai pemenang. Silahkan baca pada link ini. Sebagai masyarakat awam yang buta dengan politik hal ini terlalu dini untuk dinyatakan, selayaknya menahan diri dan menunggu hasil dari KPU lebih akurat sebab tidak memprovokasi masyarakat jika hasil akhir tidak sesuai dengan harapan masing-masing kandidat, yang terpenting siapa pun yang akan menjadi pemimpin Bangsa Indonesia perlu memperhatikan beberapa hal:

  1. Shiddiq (Jujur) yang refresentatif dengan dasar pemikiran yang logis dan ilmiah bukan menjadi boneka untuk pihak tertentu dan dapat menentukan yang haq dan bathil
  2. Amanah (dapat dipercaya) untuk mengemban kepercayaan yang tertumpu pada pundaknya perlu diperhatikan bagaimana para khalifah dulu memimpin.
  3. Tablig (menyampaikan) hal ini berkaitan dengan implementasi visi dan misi yang sudah diajukan dalam debat, artinya rakyat menunggu apakah dapat menyampaikan dengan baik dari rencana yang diagendakan.
  4. Fathanah (cerdas) dalam bertindak dengan berdasarkan pada dasar hukum negara bukan atas kepentingan individu atau golongan

ini sekedar coretan rakyat biasa yang melihat kondisi, antiknya pada saat rasulullah wafat pada sahabat berkumpul untuk menentukan khalifah, tidak ada yang berebut bahkan mereka berat menerima amanat ini. Berbanding terbalik dengan saat ini.

Muhasabah

Kebersihan Sebagian dari IMAN ?

Ketika saya sedang menunggu bis di suatu terminal, saat itu sore hari dan sinar matahari pun memancarkan sinar tanpa mentolelir kondisi dan suasana yang terjadi di sekitar terminal. iseng-iseng saya bertanya kenapa bu tidak memasang tabir ? ………………

jawaban yang unik dan juga terkesan menjaga image karena mengejar sesuatu, sekarang sedang penilaian untuk …….. jadi kami penjual tidak boleh memasang tabir, kecuali kalau sudah selesai tidak masalah. Begitu juga ketika ada yang membuang sampah sembarangan …………….. jangan buang sampah disitu, ini tempat sampah sekarang sedang penilaian untuk ………….

Namun hal tersebut ternyata menjadi kebiasaan di tempat lain juga, terbersit dalam pikiran apakah kebersihan itu memang sebagian dari iman atau karena mengejar sesuatu yang lebih menjurus hal yang duniawi saja ? ………. wallau ‘alam