Landasan Pendidikan

A.      Latar Belakang

Kesejahteraan masyarakat selalu menjadi topik pembicaraan di setiap kesempa-tan, karena pada saat ini segala kebutuhan pokok yang rutin mereka gunakan, harga-nya mulai melonjak. “Persaingan dalam meningkatkan kesejahteraan pun terjadi, hal tersebut dikarenakan adanya kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi, yaitu kebutuhan berprestasi, kebutuhan berafiliasi dan kebutuhan akan kekuasaan.” (Danim, 1996:35)

Namun ada satu hal yang sering terlupakan, bahwa sesungguhnya pendidikan dengan kesejahteraan sosial suatu kesatuan karena taraf pendidikan yang dicapai oleh individu akan mempengaruhi pekerjaan yang dikerjakannya. Berbicara masalah Pendidikan merupakan suatu sarana yang sangat krusial dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan handal, namun hal tersebut akan terealisasi dengan nyata apabila dunia pendidikan, mengadopsi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu akan mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 tentang sistem pendidikan nasional yang berbunyi Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan pendidikan tersebut harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, dengan harapan kuantitas sekolah yang terus bertambah akan selalu diiringi dengan kualitasnya. Peningkatan kualitas pendidikan yang paling utama adalah peningkatan kemampuan guru baik dalam teknik penyampaian materi juga penguasaan materi. Sehingga guru lebih fleksibel dalam penyampaian materi pembelajaran di sekolah.

Langkah pemerintah untuk mendukung hal itu adalah dengan mengadakan sertifikasi bagi guru-guru, hal ini dilakukan dengan tujuan memotivasi guru untuk meningkatkan profesionalitas kerja, karena pendidikan tanpa adanya guru yang bekerja dengan serius, maka akan berdampak pada turunnya kualitas sumber daya manusia. Tugas guru adalah “pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.”(Undang-Undang No. 14 Tahun 2005:2) Sejalan dengan penjelasan di atas Roestiyah N.K dalam Djamarah (2000:38) menjelaskan tugas guru dalam mendidik adalah :

1) menyerahkan kebudayaan kepada anak didik berupa kepandaian, kecakapan dan pengalaman-pengalaman, 2) membentuk kepribadian anak yang harmonis, sesuai cita-cita dan dasar negara kita Pancasila. 3) Menyiapkan anak menjadi warga negara yang baik sesuai undang-undang pendidikan yang merupakan keputusan MPR No. 11 tahun 1983. 4) Sebagai perantara dalam belajar atau medium, anak harus berusaha sendiri mendapatkan suatu pengertian, insight, sehingga timbul perubahan dalam pengetahuan, tingkah laku dan sikap. 5) Guru adalah sebagai pembimbing. 6) Guru sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat. 7) sebagai penegak disiplin sehingga menjadi contoh dalam segala hal. 8) sebagai administrator dan manajer 9) sebagai suatu profesi. 10) sebagai perencana kurikulum 11) sebagai pemimpin dan 12) sebagai sponsor kegiatan anak

Untuk menuju suatu profesionalitas harus dimulai dari akarnya yaitu calon guru. Seorang calon guru perlu mengetahui keterampilan dasar mengajar yang akan menjadi profesinya setelah menyelesaikan proses pendidikan di lembaga keguruan baik itu sekolah tinggi, institut ataupun universitas. Undang-Undang Guru dan Dosen Pasal 8 dan Pasal 10 menjelaskan suatu kompetensi yang perlu dikuasai oleh seorang calon guru sebagai berikut:

Pasal 8

Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Pasal 10

1)      Keterampilan dasar mengajar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogiek, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

2)      Ketentuan lebih lanjut mengenai keterampilan dasar mengajar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah

(UU Nomor 14 Tahun 2005:6)

 

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa kompetensi yang dituntut oleh Undang-Undang tersebut yaitu kompetensi pedagogiek, kepribadian, sosial dan profesional.

Kompetensi guru sebagai pelaksana pendidikan, memerlukan landasan yang kokoh untuk mencapai kompetensi yang dituntut oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, oleh sebab itu dalam makalah singkat ini sesuai dengan tugas yang diamanatkan oleh Dosen Pangampu Mata Kuliah Matrikulasi Pengantar Pendidikan, penulis akan membahas landasan pendidikan.

B.      Rumusan Masalah

Bagaimanakah landasan pendidikan di Indonesia ?

 

C.      Tujuan Penulisan

Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah

1. Membahas landasan pendidikan di Indonesia

2. Membahas implikasi landasan pendidikan di Indonesia terhadap praktik pendidikan dan studi pendidikan

 

F.      Manfaat Penulisan

Penulisan ini diharapkan bermanfaat untuk memahami:

  1. Landasan pendidikan di Indonesia
  2. Implikasi landasan pendidikan di Indonesia terhadap praktik pendidikan dan studi pendidikan

 


 

LANDASAN PENDIDIKAN

A.      Pengertian Landasan Pendidikan

Praktik  pendidikan dapat dilakukan dengan baik, memiliki tujuan yang jelas, isi kurikulum yang sesuai dengan kebetuhan peserta didik akan terlaksanan jika berpijak pada landasan pendidikan yang kokoh. Pendidikan merupakan proses humanisasi atau memanusiakan manusia, maka para pendidik harus memahami hakikat manusia dan implikasinya terhadap pendidikan sebagai salah satu landasannya.

Ada dua istilah yang terlebih dahulu perlu kita kaji dalam rangka memahami pengertian landasan pendidikan, yaitu istilah landasan dan istilah pendidikan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, akan ditemukan bahwa istilah landasan diartikan sebagai alas, dasar, atau tumpuan (Balai  Pustaka, 2005:633). Menurut Suyitno (2009:5) Landasan terdapat dua jenis:

  1. Landasan bersifat material
  2. Landasan bersifat konseptual

Untuk landasan pendidikan termasuk kedalam landasan yang bersifat konseptual yang pada dasarnya identik dengan asumsi. Pengertian asumsi menurut Encarta Dictionary Tools (2003) dalam Syarifudin (2012:3) dijelaskan bahwa asumsi adalah sesuatu yang dijadikan titik tolak; sesuatu yang diyakini benar tanpa ada pembuktian.  Adapun sesuatu yang diyakini benar tanpa pembuktian tersebut dijadikan orang sebagai titik tolak dalam rangka berfikir contohnya saat melakukan studi pendidikan atau memahami konsep pendidikan dan dalam rangka bertindak contohnya melakukan suatu praktik pendidikan.

Pendidikan memiliki banyak pengertian yang didefinisikan oleh para ahli, antara lain:

  1. Ernest Hemingway (1989-1961)  menyatakan, pendidikan harus berfungsi sebagai “a built-in, shockproof crap detector” (alat pendeteksi kebodohan dan keedanan yang kedap-kejutan atau taahn bantingan dan menetap). Alasan pengertian dari Hemingway mendefinisikan pendidikan seperti itu dimana pada masa lalu kebodohan atau keedanan (crap) yang dimasukkan dari luar untuk kepentingan kaum elite yang tengah berkuasa. Untuk itu tugas sekolah ialah menemukan macam-macam kebodohan dan kesesatan yang tersebar, kebohongan dan keedanan yang ada ditengah masyarakat lalu mengajak warga untuk berfikir kritis.
  2. David Riesman menyebutkan Pendidikan sebagai lembaga yang “counter-cyclical” (yang kontra siklis). Artinya sekolah harus menjadi agen perubahan dan agen pembaharu yang kreatif, terutama melawan hal-hal yang semu-maya  dan menyajikan kebenaran-kebenaran.
  3. Nobert Wiener menyatakan sekolah harus berfungsi sebagai “anti-entrofic feedback system” (sistem umpan-balik yang anti entropik). Pengertian entropi adalah kecendrungan umum pada setiap sistem baik yang alami maupun yang bersifat buatan untuk kehilangan energi, daya kerja dan kegunaannya, lalu menjadi kesia-siaan. Maka pendidikan harus menjadi sistem umpan balik yang mampu melawan ketidakgunaan, kesia-siaan, dan kekacauan yang ada ditengah masyarakat manusia untuk menemukan hal-hal yang benar.

Berdasarkan pengertian di atas, landasan pendidikan dapat diartikan seperangkat asumsi yang dijadikan titik tolah dalam pendidikan, baik dalam studi pendidikan ataupun praktik pendidikan.

 

B.      Jenis-Jenis Landasan Pendidikan

Asumsi-asumsi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan itu bersumber dari agama, filsafat, ilmu dan hukum atau yuridis. Sehubungan dengan itu landasan pendidikan Menurut Syarifudin (2013:8-10) dapat dikelompokan menjadi empat jenis, yaitu:

 

  1. 1.        Landasan Religius Pendidikan

Untuk landasan ini adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari agama yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan, antara lain:

  1. Perintah Allah dalam surat Al-‘Alaq yang memerintahkan kepada kita untuk membaca.
  2. Hadist rasul yang artinya “Carilah ilmu dari buaian hingga ke liang lahad”
  3. Hadist Rasul yang artinya “Mencari ilmu adalah fardu bagi setiap muslim”

Berdasarkan keterangan di atas, bagi setiap muslim dan muslimat bahwa belajar atau melaksanakan pendidikan sepanjang hayat merupakan suatu kewajiban.

 

  1. 2.             Landasan Filosofis Pendidikan

Filosofis,  berasal dari bahasa Yunani yang terdiri atas suku kata philein/philos  yang artinya cinta dan sophos/Sophia yang artinya kebijaksanaan, hikmah, ilmu, kebenaran. Secara maknawi filsafat dimaknai sebagai suatu pengetahuan yang mencoba untuk memahami hakikat segala sesuatu untuk mencapai kebenaran atau kebijaksanaan.

Untuk mencapai dan menemukan kebenaran tersebut, masing-masing filosof memiliki karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan lainnya. Demikian pula kajian yang dijadikan obyek penelitian akan berbeda selaras dengan cara pandang terhadap hakikat segala sesuatu. Pendidikan  sebagaimana telah dikemukakan di atas,  tiada lain adalah humanisasi. Tujuan pendidikan adalah terwujudnya manusia ideal atau manusia yang dicita-citakan sesuai nilai-nilai dan norma-norma yang dianut. Contoh manusia ideal yang menjadi tujuan pendidikan tersebut antara lain: manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, cerdas, terampil, dst.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa landasan  filosofis  pendidikan adalah asumsi  filosofis  yang dijadikan titik tolak dalam rangka  studi dan praktek  pendidikan. Sebagaimana telah kita pahami, dalam pendidikan mesti terdapat momen studi pendidikan dan momen praktek pendidikan.

 

  1. 3.             Landasan Ilmiah Pendidikan

Landasan ilmiah pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari disiplin ilmu tertentu  yang menjadi titik tolak  dalam pendidikan. Sebagaimana diketahui, terdapat berbagai disiplin ilmu, seperti: psikologi, sosiologi, ekonomi, antropologi, sejarah, biologi, dsb. Sebab itu, ada berbagai  jenis landasan ilmiah pendidikan, antara lain: landasan psikologis pendidikan, landasan sosiologis pendidikan, landasan biologis pendidikan, landasan antropologis pendidikan, landasan historis pendidikan, landasan ekonomi pendidikan dan landasan politik pendidikan.

  1. Landasan psikologis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah psikologi yang menjadi titik tolak dalam pendidikan. Contoh: “Setiap individu mengalami perkembangan secara bertahap, adapun pada setiap tahap perkembangannya setiap individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikannya”. Implikasinya, pendidikan mesti dilaksanakan secara bertahap; tujuan dan isi pendidikan mesti disesuaikan dengan tahapan dan tugas perkembangan individu/peserta didik.

b.    Landasan sosiologis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah sosiologi yang dijadikan titik tolak  dalam pendidikan. Contoh: “Didalam masyarakat yang menganut stratifikasi sosial terbuka terdapat peluang besar untuk terjadinya mobilitas sosial. Adapun faktor yang memungkinkan terjadinya mobilitas sosial itu antara lain bakat dan pendidikan”. Implikasinya, para orang tua rela berkorban membiayai pendidikan anak-anaknya (dengan menyisihkan kebutuhan hidup sekunder lainnya) agar  anak mereka dapat naik dalam tingkatan anak tangga sosialnya.

c.    Landasan antropologis  pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah antropologi yang dijadikan titiktolak dalam pendidikan. Contoh: masyarakat akan tetap eksis apabila terdapat homogenitas di dalamnya, untuk itu maka masyarakat  menyelenggarakan enkulturasi terhadap generasi mudanya.

d.    Landasan ekonomi pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah ekonomi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Contoh: “Kalkulasi ekonomi selalu berkenaan dengan modal, produksi, distribusi, persaingan, untung/ laba dan rugi”. Implikasinya,  pendidikan dipandang sebagai penanaman modal pada diri manusia  (human investment) untuk mempertinggi mutu tenaga kerja sehingga dapat meningkatkan produksi. Selain itu, pemilihan sekolah atau jurusan oleh seseorang akan ditentukan dengan mempertimbangkan kemampuan biaya/modal yang dimilikinya, prosfek pekerjaan serta gaji yang mungkin diperolehnya setelah lulus dan bekerja. Jika sekolah ingin laku (banyak memperoleh siswa), maka harus mempunyai daya saing tinggi dalam hal prestasi.

e.    Landasan biologis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah biologi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Contoh: “Dibanding dengan hewan, manusia memiliki otak yang lebih besar sehingga ia mampu berpikir”. Implikasinya, manusia memungkinkan untuk dididik.

f.     Landasan politik  pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah politik yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Contoh: Pemerintahan demokrasi mengimplikasikan manajemen pendidikan yang bersifat desentralistik.

g.    Landasan historis pendidikan adalah asumsi-asumsi pendidikan yang bersumber dari konsep dan praktek pendidikan masa lampau (sejarah) yang menjadi titik tolak perkembangan pendidikan masa kini dan masa datang. Contoh: Semboyan “tut wuri handayani” sebagai salah satu peranan yang harus dilaksanakan oleh para pendidik adalah semboyan dari Ki Hadjar Dewantara (Pendiri Perguruan Nasional Taman Siswa pada tgl 3 Juli 1922 di Yogyakarta) yang disetujui hingga masa kini dan untuk masa datang karena dinilai berharga.

  1. 4.             Landasan Hukum/Landasan Yuridis Pendidikan

Menurut Mudyoharjo (2001:351) menjelaskan bahwa Landasan Yuridis  Pendidikan adalah seperangkat konsep peraturan perundang-undangan Indonesia yang menjadi titik tolak Sistem Pendidikan Nasional Indonesia. Sebagai contoh:

  1. Undang-Undang Dasar 1945
  2. Pancasila
  3. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN DAN SARAN

 

A.      Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, pada akhir tulisan ini dapat ditarik benang merah sebagai berikut:

 

  1. Landasan pendidikan merupakan fondasi utama dalam pendidikan, hal ini perlu diperhatikan untuk meningkatkan kompetensi guru
  2. Landasan pendidikan harus dipahami oleh para guru dan pengambil kebijakan, karena akan berimplikasi pada praktik pendidikan
  3. Landasan pendidikan bagi calon guru yang sedang melakukan studi pendidikan perlu dipahami agar menjadi fondasi dalam praktik pendidikan

 

B.      Saran

1.    Dengan pembahasan ulang landasan pendidikan, diharapkan dapat menyegarkan kembali konsep dan praktik pendidikan yang telah kita lakukan

2.    Pelaksanaan praktik pendidikan diharapkan berpijak pada landasan pendidikan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun1945.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang “Sistem

Pendidikan Nasional”.

 

Danim, Sudarwan.1996. Transformasi Sumber Daya Manusia : Analisis Fungsi Pendidikan, Dinamika Perilaku dan Kesejahteraan Manusia Indonesia Masa Depan. Bumi Aksara : Jakarta

 

Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar.Jakarta: Rineka Cipta

 

Kartono, Kartini. 1992. Pengantar Ilmu Mendidik Teoritis: Apakah Pendidikan Masih Diperlukan?. Mandar Maju, Bandung

 

Mudyohardjo, Reja. 2009. Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-Dasar Pandidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia. Rajawali Press, Jakarta

 

Suyitno. 2009. Modul Landasan Filosofis Pendidikan. Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung

 

Syaripudin, Tatang. 2012. Pengantar Pendidikan. Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kementrian Agama Republik Indonesia, Jakarta

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s