Sexting: Trend yang kebablasan

Seperti yang pernah saya tulis di Manusia dan Teknologi, walau pun iseng-iseng ikut lomba review film linimassa 2. Namun banyak terdapat contoh yang baik terkandung didalamnya.” TEknologi informasi” begitu istilah yang saat ini merebak, salah satunya dengan leluasanya berkomunikasi, mengakses berita dan sebagainya.

Namun tidak semua hati orang sama dalam memahami kemajuan Teknologi Informasi, kepala sama hitam hati tidak ada yang tau. Ketika membaca berita di Republika.co.id tentang sexting, ya … satu binatang produk syaitan melalui tangan-tangan jahil manusia yang memanfaatkan kemajuan teknologi. Sexting sebagai kegiatan merekam sendiri adegan tanpa busana dan mengunggahnya ke internet. Terkadang dilakukan hanya untuk kepuasan sesaat saja.

Republika.co.id merelease hasil surei di Inggris bahwa satu dari empat siswa mengaku biasa bertukar gambar porno diri mereka sendiri dengan temannya, sedangkan usia mereka masih 11 tahun … ( aduh ucrit … papang ge teu acan lempeng ). Lebih miris lagi 40% dari anak usai 11-14 tahun mereka menggunakan komputer atau ponsel mereka untuk bertukar gambar tanpa busana sehelai pun.

DISKUSI

berdasarkan kenyataan yang sudah dibilang jahiliyah abad modern, mungkin itulah kata-kata yang halus untuk kondisi saat ini. Ilmu pengetahuan dan Teknologi sudah berkembang dengan pesat tapi hati mereka kosong, Rasul pernah memberikan penjelasan bahwa manusia digerakkan oleh segumpal darah, yang apabila dia baik maka seluruh tubuh pun akan berbuat baik, begitu sebaliknya. Kemudian para sahabat bertanya apa yang dimaksud ya rasul, jawab rasul itulah hati manusia.

Kondisi asal bapak senang, halal, haram dan hantam itulah gambaran kenyataan dari pola hati yang dimiliki seseorang. Sebenarnya pendidikan karakter juga perlu untuk pejabat, guru dan masyarakat. Trus bagaimana menyikapi trend kebablasan tersebut ? inilah solusi yang dapat membantu kita untuk melindungi anak-anak kita.

  1. Cari informasi tentang seluk beluk sexting maupun bentuk kejahatan lain. Bicarakan secara terbuka dengan anak. Bantu anak melihat bahaya dari hubungan seksual di usianya dan sexting. Katakan Anda memahami kebutuhannya untuk diperhatikan lawan jenis, namun sexting bukanlah cara yang tepat.
  2. Bantu anak menghargai tubuhnya sebagai bagian yang tak pantas dieksploitasi.
  3. Buatlah peraturan keluarga tentang pengiriman pesan singkat. Batasi penggunaan ponsel. Di waktu tidur, ponsel anak sebaiknya disimpan orang tua. Sesekali, pantau ponsel, instan messaging, surat elektronik, dan akun jejaring sosial anak. Jelaskan Anda bukan sedang melanggar privasinya.
  4. Tetapkan konsekuensi atas tata tertib yang dilanggar. Anda dapat membatasi aksesnya ke internet, menyita ponselnya, atau memblokir teman anak yang memberi pengaruh buruk.
  5. Laman fatherhood.about.com merekomendasikan ponsel tanpa kamera untuk anak. Selain itu, anak juga perlu diingatkan untuk terampil membangun relasi di dunia nyata. (Sumber: Republika.co,id)

mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat membantu untuk memperluas wawasan tentang efek negatif dari Teknologi Informasi, Mari kita jaga diri kita dan keluarga kita dar api neraka kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s