Antara UN, Pendikar dan Kurikulum Baru

Pendidikan merupakan salah satu cara untuk berinvesatasi, hal ini ditinjau dari segi sumber daya manusia. Untuk menunjang peningkatan kualitas pendidikan berbagai inovasi kurikulum diterapkan di Indonesia. Terakhir penerapan pendidikan berkarakter. Setelah membaca artikel di  Badan Penelitian dan pengembangan Kementrian Pendidikan dan kebudayaan, walaupun postingan lawas, tapi timbul ide menulis postingan ini. Terdapat penjelasan sebagai berikut:

“Di dalam Perpres No. 5 tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional disebutkan bahwa substansi inti program aksi bidang pendidikan di antaranya adalah Penerapan metodologi pendidikan yang tidak lagi berupa pengajaran demi kelulusan ujian (teaching to the test), namun pendidikan menyeluruh yang memperhatikan kemampuan sosial, watak, budi pekerti, kecintaan terhadap budaya-bahasa Indonesia dengan memasukkan pula pendidikan kewirausahaan sehingga sekolah dapat mendorong penciptaan hasil didik yang mampu menjawab kebutuhan sumber daya manusia.”

penjelasan tersebut merupakan suatu tujuan yang sangat bagus, perlu dukungan yang proaktif dari guru-guru, karena akan mengembalikan jati diri masyarakat pada budaya bangsa.

 

DISKUSI

Sangat bagus sekali kelulusan dalam pengajaran menjadi tolok ukur dalam pendidikan. Namun bagaimana kaitannya dengan Ujian Nasional ?. Walaupun penjelasan Mulyasa (205-206: 2008) bahwa pelaksanaan UN sebagai quality control dalam proses dan input pendidikan. Sebaiknya UN dilaksanakan tanpa adanya kriteria kelulusan hanya digunakan untuk mengetahui tingkat pendidikan secara nasional.

Apabila hal ini tetap berlaku untuk menentukan kelulusan tiap jenjang pendidikan, maka bagaimana tolok ukur pemerintah dalam kriteria watak, sosial dan kecintaan terhadap budaya ? yang memiliki penilaian langsung adalah sekolah itu sendiri, walaupun sekarang ada kebijakan lain untuk menentukan kelulusan UN, namun sifatnya masih mengambil nilai dari proses pengajarannya di kelas saja. untuk itu harapan untuk kurikulum baru yang mengusung kompetensi berimbang, mudah-mudahan menjadi pencerahan bagi dunia pendidikan tanpa ada “campur tangan UN” sebagai salah satu syarat kelulusan.

Sumber:

  1. http://litbang.kemdikbud.go.id/detail.php?id=195#
  2. Mulyasa. 2008. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan  Pendidikan: Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s